Minggu, 15 April 2012

Pengukuran Faktor Fisika Kimia Tanah dan Pencuplikan Hewan Tanah



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  LATAR BELAKANG
Semua makhluk hidup yang ada dibumi ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa pengaruh atau ikut campur faktor lingkungan lainnya. Sebagai contoh yaitu kehidupan hewan tanah yang sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan kata lain, keberadaan dan kepadatan suatu populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Misalnya iklim dan tanah akan berpegaruh secara kuat dalam pola kontrolnya terhadap komponen biotik dalam menentukan jenis-jenis hewan yang akan mampu menempati suatu tempat atau daerah tertentu.
Untuk faktor biotik bagi hewan tanah contohnya mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan golongan hewan lainya akan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Dalam studi ekologi hewan tanah, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting dilakukan karena besarnya pengaruh faktor abiotik itu terhadap keberadaan dan kepadatan populasi kelompok hewan ini.  Faktor lingkungan abiotik secara besarnya dapat dibagi atas faktor fisika dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas dan tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah dan unsur-unsur mineral tanah. Dengan dilakukannya pengukuran faktor lingkungan abiotik, maka akan dapat diketahui faktor yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan dan kepadatan populasi hewan yang di teliti. Berdasarkan hal itu, kami ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana pengaruh faktor fisika dan kimia tanah dan proses pencuplikan hewan tanah. Untuk itu kami melakukan praktikum yang mana pada setiap kelompok melakukan percobaan dengan daerah yang berbeda agar dapat mengetahui lebih jelas tentang pengukuran faktor fisika kimia tanah dan pencuplikan hewan tanah.
1.2.  TUJUAN
Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pengukuran faktor fisika-kimia tanah dan pencuplikan hewan tanah
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Tanah adalah suatu bentangan alam yang tersusun dari bahan-bahan mineral yang merupakan hasil proses pelapukan batu-batuan dan bahan organik yang terdiri dari organisme tanah dan hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan lainnya. Tanah terdiri atas fase padat, cair dan gas. Fase padat terdiri dari bahan organik (sisa tumbuhan, hewan dan organisme tanah), bahan anorganik (pecahan batu-batuan, mineral tanah dan senyawa hasil pelapukan). Fase cair adalah air yang mengisi sebagian atau seluruh ruang pori tanah yang tidak diisi oleh air (Muhammad, 2003).
Struktur tanah menunjukkan kombinasi atau susunan partikel-partikel tanah primer (pasir, debu, dan liat) sampai pada partikel-partikel sekunder yang disebut juga agregat. Struktur suatu horizon yang berbeda satu profil tanah merupakan satu ciri penting tanah, seperti warna tekstur atau komposisi kimia. Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperhatikan hubungan kelembaban udara. Bahan organik merupakan sebuah bahan utama pewarnaan tanah tergantung pada keadaan alaminya, jumlah dan penyebaran dalam profil tanah tersebut. Bahan organik biasanya tertinggi di lapisan permukaan tanah di daerah sedang warna permukaan tanahnya agak gelap (Foth, 1998).
Hewan tanah merupakan hewan yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang dalam tanah. Dengan demikian kehidupan hewan tanah sangat ditentukan oleh faktor fisika tanah, karena itu dalam mempelajari ekologi hewan tanah faktor fisika kimia tanah selalu diukur (Muhammad, 2003).
Faktor fisika dan kimia tanah yang menentukan komposisi dan kerapatan serangga permukaan tanah disuatu tempat adalam pH, suhu, kelembaban, makanan, cahaya, tektstur tanah dan kadar organik tanah, sengga terjadi kelimpahan serangga tanah (Odum, 1996).
Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan dibawa ke laboraturium (Muhammad, 2003).
Suhu tanah yang merupakan salah satu contoh faktor fisika tanah mengalami perubahan dari pengembunan secara terus menerus pada kedalaman yang dangkal di banyak tanah di daerah Alaska yang beku sampai ke Hawai yang tropis, dimanapun jarang ditemukan suhu tanah dapat mencapai 1000F (37,80 C) pada hari yang panas sekalipun. Pada kebanyakan permukaan bumi, suhu tanah harian jarang mengalami perubahan pada kedalaman 20inchi (51 cm). tapi dibawah kedalaman tersebut suhu tanah akan mengalami perubahan yang secara lambat menunjukkan pertambahan derajat suhu sekitar 20F (Donahue dkk, 1977).
Partikel tanah berbeda-beda ukurannya. Berdasarkan ukurannya maka partikel tanah digolongkan atas fraksi pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah adalah perbandingan antara partikel tanah yang berupa liat, debu, dan pasir dari suatu massa tanah (Muhammad, 2003).
         Gambar 1. Diagram Segitiga Tekstur Tanah
Tanah yang mempunyai tekstur halus mempunyai luas permukaan besar dibanding dengan tanah yang bertekstur kasar. Oleh karena itu, tanah yang demkian ini cepat melapuk. Beberapa sifat tanah yang lain, seperti kandungan bahan organik, unsur hara, aerasi dan lain-lain, seperti kandungan bahan organik mempunyai hubungan yang erat dengan tekstur tanah. Penentuan tekstur tanah di laboratorium dilakukan dengan cara analisis mekanis. Partikel-partikel tanah diaduk dalam air dan diberi bahan-bahan yang menghilangkan perekat-perekat dalam tanah. Partikel liat yang mempunyai luas permukaan relatif besar dalam satu-satuan volume tertentu akan mengendap dalam waktu yang lama, sedangkan partikel-partikel pasir lebih cepat mengendap karena luas permukaannya relatif kecil. (Buckman dan Brady, 1982)
Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah secara dinamik.
Perangkap jebak sangat sederhana, yang mana hanya berupa bejana yang ditanam di tanah. Agar air hujan tidak masuk ke dalam perangkap maka perangkap diberi atap dan agar air yang mengalir di permukaan tanah tidak masuk ke dalam perangkap maka perangkap dipasang pada tanah yang datar dan agak sedikit tinggi. Jarak antar perangkap sebaliknya minimal 5 m.
Perangkap jebak pada prinsipnya ada dua macam, yaitu perangkap penjebak tanpa umpan penarik, dan perangkap penjebak dengan umpan. Pada perangkap tanpa umpan, hewan tanah yang berkeliaran di permukaan tanah akan jatuh terjebak, yaitu hewan tanah yang kebetulan menuju ke perangkap itu, sedangkan perangkap dengan umpan, hewan yang terperangkap adalah hewan yang tertarik oleh bau umpan yang diletakkan di dalam perangkap, hewan yang jatuh dalam perangkap akan terawat oleh formalin atau zat kimia lainnya yang diletakkan dalam perangkap tersebut (Muhammad, 2003).

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1.  WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum ini dilakukan pada hari Jumat, tanggal 16 Maret 2012, dengan lokasi terdedah di belakang Perpustakaan FKIP Universitas Riau.
3.2.  ALAT DAN BAHAN
a)    Suhu tanah
Alat       : Termometer air raksa
Bahan    : Tanah (Permukaan Tanah)
b)   Tekstur tanah
Alat       : Tabung reaksi
Bahan    : Tanah, Akuades
c)    pH tanah
Alat       : pH-meter
Bahan    : Tanah
d)   Pencuplikan hewan tanah
Alat       : Cangkul
Bahan    : Tanah
3.3.  CARA KERJA
a)      Suhu tanah
1.      Dimasukkan termometer ke permukaan tanah, kemudian diamati beberapa menit
2.      Diukur suhu tanah
b)      Tekstur tanah
1.      Diambil kira-kira 10 gram tanah dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2.      Ditambahkan akuades sambil digoyang sampai campuran tanah menjadi homogen
3.      Dibiarkan campuran tanah tersebut mengendap dan membentuk lapisan partikel tanah berdasarkan ukuran fraksinya, yaitu lapisan bawah : pasir, lapisan tengah : debu, dan lapisan atas : liat
4.      Dilakukan perhitungan persentase dari pasir-debu-liat.
c)      pH tanah
1.      Dimasukkan alat pH-meter kedalam permukaan tanah
2.      Setelah beberapa menit, diukur pH-nya.
d)     Pencuplikan hewan tanah
1.      Dibuat kuadrat ditanah dengan ukuran 30cm x 30cm
2.      Digali dengan menggunakan cangkul
3.      Diamati hewan-hewan yang terdapat pada tanah tersebut.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.  HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Pengukuran faktor kimia fisika tanah
NO.
LOKASI
SUHU TANAH ( 0C)
pH TANAH
KELEMBABAN
TANAH (% )
TEKSTUR
TANAH
1
Ternaung
Biogarden lama
26
5.7
50
Liat
2
Terdedah
Ruang 51
27
4.8
68
Berliat
Halus
3
Ternaung
Biogarden lama
25
5
60
Liat
4
Terdedah
Belakang ruang 51
27
4.2
75
Liat
5
Ternaung
Biogarden lama
26
5.8
48
Liat
6
Terdedah
Belakang biologi
27
4.8
65
Liat
7
Ternaung
Biogarden lama
26
5.1
59
Berliat
Halus
8
Terdedah
Belakang pustaka FKIP
27
4.5
70
Berliat
halus
Tabel 2. Pencuplikan hewan tanah dengan metode kuadrat
NO.
LOKASI
JENIS HEWAN
JUMLAH INDIVIDU
1
Ternaung
Biogarden lama
1)        Semut hitam
2)        Serangga
3)        Laba – laba
4)        Semut putih
5)        Lipan kecil
1)        tak terhingga
2)        10                                    
3)        1
4)        5
5)        1
2
Terdedah
Ruang 51
1)        Lundi
2)        Cacing
3)        Semut hitam kecil
4)        Semut hitam besar
1)        2
2)        7
3)        14
4)        2
3
Ternaung
Biogarden lama
1)        Siput
2)        Cacing
3)        Lipan
4)        Semut merah
5)        Semut hitam besar
1)        1
2)        10
3)        5
4)        15
5)        4
4
Terdedah
Belakang runag 51
1)        Cacing
2)        Semut hitam
3)        Lundi
4)        Semut hitam besar
5)        Semut merah
1)        2
2)        9
3)        8
4)        3
5)        6
5
Ternaung
Biogarden lama
1)        Sp 1
2)        Cacing
3)        Lundi
4)        Semut hitam besar
5)        Sp 2
6)        Kaki seribu
7)        Semut hitam ekor merah
1)        1
2)        3
3)        1
4)        1
5)        1
6)        1
7)        1
6
Terdedah
Belakang biologi
1)        Semut a
2)        Semut b
3)        Cacing
1)        2
2)        11
3)        1
7
Ternaung
Biogarden lama
1)        Serangga 1
2)        Serangga 2
3)        Serangga 3
4)        Semut kecil
5)        Semut hitam
6)        Cacing
7)        Semut panjang
8)        Anak kecoa
9)        Laba – laba kecil
1)        7
2)        5
3)        3
4)        5
5)        8
6)        3
7)        3
8)        3
9)        2
8
Terdedah
Belakang pustaka fkip
1)        Semut hitam
2)        Sp a
3)        Sp b
4)        Semut merah
5)        Belalang kecil
6)        Lintah hujan
7)        Keong kecil
8)        Semut hitam kecil
9)        Cacing
10)    Jangkrik
11)    Anak lipan
1)        5
2)        6
3)        2
4)        Tak terhingga
5)        2
6)        1
7)        1
8)        Tak terhingga
9)        8
10)    1
11)    1
4.2.  PEMBAHASAN
4.2.1.   Pengukuran Faktor Fisika Kimia Tanah
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan dalam melihat faktor fisika kimia tanah yaitu di tempat terdedah (belakang Perpustakaan FKIP Universitas Riau) didapatkan hasil bahwa kondisi tanah yang kami amati memiliki suhu 270C, pH 4,5 dan kelembapan 70. Suhu tanah dapat dilihat dengan menggunakan termometer raksa yang ditancapkan di permukaan tanah dan dilihat angka kenaikan air raksa yang terdapat pada tanah. Sedangkan untuk mengukur pH dan kelembapan tanah dapat diukur dengan cara menancapkan alat pengukur yaitu soil tester pada permukaan tanah.
Untuk penentuan tekstur tanah yang dilakukan dengan memisahkan bagian partikel tanh berdasarkan ukuran fraksinya, dapat dilihat bahwa tanah yang kami amati memiliki tekstur berliat halus. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan diagram segitiga tekstur tanah.
Secara umum, terdapat perbedaan antara tempat terdedah dengan ternaung, baik dari segi suhu, pH, maupun kelembapannya. Hal ini dikarenakan oleh kapasitas sinar matahari yang dapat ditangkap pada daerah tersebut. Dengan kata lain, daerah terdedah memiliki suhu dan kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah ternaung. Sedangkan untuk tekstur tanahnya, hampir sama yaitu liat atau berliat halus.
4.2.2.   Pencuplikan Hewan Tanah
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan pada daerah terdedah yaitu di belakang perpustakaan FKIP Universitas Riau, di dapatkan hasil bahwa terdapat beberapa jenis hewan dengan jumlah yang berbeda, hal ini dikarenakan adanya perbedaan daya tahan atau adaptasi dari setiap hewan yang berbeda terhadap lingkungannya. Dengan begitu, terdapat pula berbagai jenis dan jumlah hewan yang berbeda yang dapat ditemukan pada tanah tersebut.
Untuk jenis hewan yang dapat kelompok kami amati adalah semut, cacing, anak lipan, jangkrik, belalang, keong, dan 2 spesies yang tidak dapat kami identifikasi jenisnya.
Secara menyeluruh, perbandingan antara daerah terdedah dan ternaung memiliki beberapa kesamaan antara hewan yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan tingginya daya tahan hewan serta kemampuan beradaptasinya sehingga dapat bertahan hidup baik di tempat ternaung maupun terdedah.




BAB V
PENUTUP
5.1.  KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan didapatkan kesimpulan bahwa:
ü Keberadaan suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat tergantung dari fakktor lingkungannya, yaitu faktor abiotik dan biotik
ü Faktor abiotik dibagi atas faktor fisika dan faktor kimia. Faktor fisika yaitu suhu, kadar air, dan tekstur tanah. Sedangkan faktor kimia adalah salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur mineral tanah.
ü Tanah mengandung tiga fase yaitu fase padat, cair, dan gas. Fase padat terdiri dari bahan organik dan anorganik. Fase cair terdiri dari air. Sedangkan fase gas terdiri dari udara.
ü Faktor abiotik dan biotik dapat diukur dengan berbagai cara. Misalnya suhu diukur dengan termometer, pH dan kelembaban diukur dengan soil tester, dan tekstur tanah ditentukan dengan diagram segitiga tekstur tanah.
ü Pencuplikan hewan tanah dapat dilakukan dengan perangkap penjebak (pitfall tarp).
5.2.  SARAN
Untuk memperbaiki stabilitas tanah kita harus lebih tanggap terhadap segala hal yang dapat merusak tanah baik itu sifat fisis tanah maupun sifat kimia serta mikroorganisme tanah sehingga tercipta hubungan harmonis antara manusia, tanah, dan tumbuhan serta makhluk hidup yang lain.




DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H dan Brady, N. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta
Donahue, R.L., R.W. Miller, and J.C. Shickluna. 1977. Soils An Introduction to Soils and Plant Growth Fourth Edition. Prentice Hall Inc, New jersey.
Foth, Henry d. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Muhammad, NS.,. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta
Odum, E. P. 1996. Dasar – Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

my signature